Introspeksi diri
Seminggu full ini benar-benar amat melelahkan bagiku, kenapa? Awalnya aku juga tidak mengerti masalahku dan apa yang membuat aku menjadi hilang kendali seperti ini, sifat burukku muncul dan membuat kacau segalanya.Sepertinya akibat tekanan dimana-mana. Sebelum masuk ceritanya aku akan ceritakan dulu seperti apa diriku ini, aku ini orang yang seperti tahu (NSP,2013). Aku punya kadar kesensitifan yang sangat tinggi dan cepat merasa tidak enakan dengan orang lain, selain itu aku juga kadang terlalu menyalahkan diriku sendiri sehingga bikin aku sakit hati dan capek perasaan sendiri. Parah banget kan sifatku ini?
Jadi karena sifatku yang tiba-tiba kambuh ini aku membuat salah seorang sahabatku gondok setengah mati, ceritanya begini...Awalnya aku dan temanku sebut saja mawar, kita janjian berangkat ke kampus barengan. Mawar curhat sama aku tentang kegalauannya karena kelompok untuk presentasi salah satu mata kuliah ga ada yang bisa diandelin, maksudnya ga ada yang ngasih tugasnya dengan bener gitu, masalahnya dia takut karena dosennya pun bukan sembarang dosen yang mau nerima presentasi ecek-ecek tanpa sumber yang jelas dan terpercaya. Aslilah dia agak bete karena hal itu, tapi aku hanya bisa ngehibur aja. Didalam kelas dia tiba-tiba jadi jutek dan asli kelihatan sensi berat, itu bikin aku terganggu dan akhirnya aku juga diem dan bete ngeliat dia bersikap kayak gitu. Seselesainya mata kuliah tersebut, aku tanpa bicara langsung pergi dan terburu-buru, selain tidak ingin menggangu Mawar aku juga mau menyelesaikan satu tugas kelompokku. Sambil menunggu kelompokku yang lain muncul, tiba-tiba Mawar datang dengan ekspresi yang ga bisa aku lukiskan, dia geram dan marah besar. Dia ngebentak-bentak aku dan bilang aku jangan cepet sensi saat dia lagi banyak pikiran, dan dia bilang biar kita ga ketemuan dulu biar ga ada salah paham lagi karena sifat kita yang hampir sama (kadar kesensian tinggi dan mudah ga enakan). Aku betul-betul ga nyangka temenku yang satu itu bisa marah kayak gitu. setelah tragedi itu aku langsung mikir ga henti-hentinya sekaligus introspeksi diri atas apa yang aku lakuin sama Mawar. Kesimpulanku, sifatku yang mudah sensitif dan terlalu peka kadang tidak bagus apabila muncul disaat yang ga tepat.
Kejadian ini bikin aku mikir setengah mati dan bikin aku sempet benci sama diri sendiri. Makanya seminggu ini aku merasa berantem sama diriku sendiri dan kecewa karena sifat ini ngebawa dampak yang buruk banget. Sampai akhirnya aku nangis dan setelah itu aku baru bisa lega. perenungan sesaat bikin aku sadar aku harus ngilangin sifat ini pelan-pelan dan mencoba lebih dewasa untuk ga terlalu mikirin hal-hal secara lebay. Temenku juga nasehatin aku bahwa jangan selalu pake perasaan kalo ada masalah, nanti malah tambah ribet (NA, 2013).
Satu lagi nasihat salah satu sahabatku yang bikin aku sadar bahwa semua masalah pasti akan menemukan jalannya sendiri-sendiri, untuk menemukan jalan yang tepat pengemudinya harus mampu melihat dengan jelas. sama halnya dengan masalah, harus dengan pikiran jernih (SSSL, 2013).
Jadi karena sifatku yang tiba-tiba kambuh ini aku membuat salah seorang sahabatku gondok setengah mati, ceritanya begini...Awalnya aku dan temanku sebut saja mawar, kita janjian berangkat ke kampus barengan. Mawar curhat sama aku tentang kegalauannya karena kelompok untuk presentasi salah satu mata kuliah ga ada yang bisa diandelin, maksudnya ga ada yang ngasih tugasnya dengan bener gitu, masalahnya dia takut karena dosennya pun bukan sembarang dosen yang mau nerima presentasi ecek-ecek tanpa sumber yang jelas dan terpercaya. Aslilah dia agak bete karena hal itu, tapi aku hanya bisa ngehibur aja. Didalam kelas dia tiba-tiba jadi jutek dan asli kelihatan sensi berat, itu bikin aku terganggu dan akhirnya aku juga diem dan bete ngeliat dia bersikap kayak gitu. Seselesainya mata kuliah tersebut, aku tanpa bicara langsung pergi dan terburu-buru, selain tidak ingin menggangu Mawar aku juga mau menyelesaikan satu tugas kelompokku. Sambil menunggu kelompokku yang lain muncul, tiba-tiba Mawar datang dengan ekspresi yang ga bisa aku lukiskan, dia geram dan marah besar. Dia ngebentak-bentak aku dan bilang aku jangan cepet sensi saat dia lagi banyak pikiran, dan dia bilang biar kita ga ketemuan dulu biar ga ada salah paham lagi karena sifat kita yang hampir sama (kadar kesensian tinggi dan mudah ga enakan). Aku betul-betul ga nyangka temenku yang satu itu bisa marah kayak gitu. setelah tragedi itu aku langsung mikir ga henti-hentinya sekaligus introspeksi diri atas apa yang aku lakuin sama Mawar. Kesimpulanku, sifatku yang mudah sensitif dan terlalu peka kadang tidak bagus apabila muncul disaat yang ga tepat.
Kejadian ini bikin aku mikir setengah mati dan bikin aku sempet benci sama diri sendiri. Makanya seminggu ini aku merasa berantem sama diriku sendiri dan kecewa karena sifat ini ngebawa dampak yang buruk banget. Sampai akhirnya aku nangis dan setelah itu aku baru bisa lega. perenungan sesaat bikin aku sadar aku harus ngilangin sifat ini pelan-pelan dan mencoba lebih dewasa untuk ga terlalu mikirin hal-hal secara lebay. Temenku juga nasehatin aku bahwa jangan selalu pake perasaan kalo ada masalah, nanti malah tambah ribet (NA, 2013).
Satu lagi nasihat salah satu sahabatku yang bikin aku sadar bahwa semua masalah pasti akan menemukan jalannya sendiri-sendiri, untuk menemukan jalan yang tepat pengemudinya harus mampu melihat dengan jelas. sama halnya dengan masalah, harus dengan pikiran jernih (SSSL, 2013).
Komentar
hehe
apapun yang kau lalui
apapun yang kau hadapi
kalo mindset lu baik gw yakin 100000000% atas izin Allah pasti akan ada kebaikan
stay calm,, stay smile,, stay possitive thinking,, and like normas's say= stay beautiful :)
aku yakin kamu bisa lewatinnya dan jgn gampang emosi ya :)