Pertemuan Teman Lama

Kemarin, benar-benar baru kemarin malam hal ini terjadi. Entah memang kalau ditakdirkan untuk bertemu teman lama yang udah 'lost contact', bisa juga terjadi. Aku cuma orang baik yang berusaha menyambut teman lama yang sedang singgah di Kota tempat dimana aku kuliah sekarang. Dia yang datang karena ada suatu keperluan lain, secara mendadak ngasih tau aku dan ngajak ketemuan hari itu juga, padahal hari sudah menjelang malam loh. Memang gila, aku juga kurang mengerti jalan pikiran lelaki, yaaa teman lamaku ini kadang aneh. 

Malam kemarin itu, percakapan kami berdua mengalir begitu saja, seperti kebanyakan teman lama yang bertemu kembali dan menceritakan kisah hidupnya yang sungguh melelahkan. begitupun Dia, aku tidak menyangka dia begitu terbuka denganku walaupun aku bukan teman dekat, sahabat apalagi pacarnya. yah, aku malam itu menjadi pendengar yang baik saja. Sungguh sedih mendengar kisahnya, dia yang berhenti kuliah karena suatu hal yang menurutku sepele, entah mungkin masih ada sedikit cerita yang dia tutup-tutupi. Dia ingin aku berjanji untuk tidak menceritakannya pada siapapun, karena hanya aku yang tau cerita sebenarnya. Aku menghargainya dan berjanji untuk tidak menceritakan kisah sedihnya. Banyak pertanyaan yang muncul dikepalaku, namun hanya beberapa yang kutanyakan seperti bagaimana tanggapan orangtuanya saat dia sempat menghilang dan berhenti kuliah. Lanjut berjam-jam kami menjelajahi pusat kota dengan berjalan kaki sambil terus bercerita. Aku tahu dari ceritanya, dari matanya tersirat dia sangat kesepian. Aku ingin menyemangatinya. 

Disela-sela pertemuan kami, sebenarnya sebagai perempuan aku sangat terganggu dengan kata-katanya, yang memujiku beberapa kali, yang memegang tanganku ketika menyebrang tanpa ijin, yang berusaha duduk sangat dekat di sebelahku dan kekagetanku karena tiba-tiba dia memelukku dari belakang saat aku berpamitan dengannya. Yah, mungkin aku memang bukan perempuan ibukota seperti yang dulu, tradisi kota yang kutinggali berbeda sekali, mungkin menurutnya ini hal biasa untuk dilakukan tetapi ah sudahlah. entah aku sudah merasa berdosa atau tidak, aku terlanjur kasihan dengannya dan terus terang senang diperlakukan seperti itu. aku yang perempuan, perempuan memang terkadang terlalu berpikir dengan hati bukan logika. tapi apakah aku salah kalau merasa bingung? berusaha berpikir netral, mungkin dia kesepian, mungkin dia hanya butuh semangat dan teman bercerita. Hanya waktu yang bisa menjawabnya. mungkin. tekadku hanya ingin membantunya kembali pulih dari keterpurukannya, mengembalikan semangatnya dan membuatnya kembali ke jalan yang lurus dengan segenap kemampuanku. hanya itu, selebihnya aku serahkan dengan Sang Maha Penentu Takdir. aku mungkin berpikir gila seperti ini juga karena sedang mengalami godaan hati. Ya Allah, tolonglah aku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Introspeksi diri

Dramatis tapi... pengalaman memanglah segalanya!

Hello, January!