Perjalanan Hidup Menjelang 21 tahun
Aku selalu saja terlalu memikirkan sesuatu yang belum terjadi, memang sudah jadi kebiasaanku sejak dulu apabila ingin naik ke jenjang kehidupan yang lebih tinggi selalu ku analisis sejak jauh-jauh hari. Walaupun aneh, tapi aku menyukai kebiasaanku yang satu ini karena menurutku perencanaan matang-matang itu sangat penting untuk dilakukan. Misalkan, saat aku naik dari jenjang SMP menuju SMA, selama liburan sebelum masuk SMA kelas 1 aku memikirkan sampai tahap mau jadi anak SMA yang ber-image seperti apa dan mau masuk jurusan apa nantinya, apakah IPA atau IPS. Aku mulai kritis sejak lulus SMP seingatku, seperti ceritaku tadi, jadi saat waktu peralihan tiba antara SMP menuju SMA lalu SMA menuju mahasiswa pun.
Waktu peralihanku dari siswa menjadi mahasiswa merupakan salah satu pemikiran besarku, diawali dari kebingunganku dalam memilih jurusan kuliah yang sekiranya cocok sampai keinginanku untuk merantau dan memikirkan skripsi yang kata orang sih susah ngurusnya. Awalnya jurusan yang kuidam-idamkan sejak SD itu adalah arsitektur tapi orangtua ku kurang setuju karena katanya sih jadi arsitek itu nggak menjanjikan sama sekali, akhirnya aku menemukan jurusan yang pas untukku yaitu Biologi. kenapa biologi? aku sih ngikutin prinsip guru Fisika SMA ku yang katanya waktu beliau milih jurusan fisika karena nggak ngerti fisika, akupun milih biologi karena aku kurang mampu dalam menghafal dan memahami sehingga bisa jadi pembelajaranku. Jadilah pak guru fisika itu jadi inspirasiku dalam memilih jurusan kuliah. Setelah fix masalah jurusan, aku memikirkan tempat kuliah yang berkualitas ilmu tetapi harga terjangkau kemampuan orang tua, aku berniat masuk PTN. PTN impianku UI tetapi takdir berkata lain, aku keterima masuk Biologi Undip. Hikmahnya sih aku dapet jurusan impian dan keinginanku untuk merantau juga tercapai. Allah memang Maha Tahu yang terbaik untuk hamba-Nya.
Masa perkuliahanku yang diwarnai berbagai macam rasa, pahitnya hidup saat uang menipis yang mendewasakan cara pandangku terhadap mengatur uang sendiri, asinnya hidup terasa saat nilai dirasa tak memuaskan gegara kualitas belajar yang kurang maksimal dan manisnya hidup saat merasakan jatuh cinta serta sakitnya saat di-PHP. Semua mendewasakan dan menjadi pembelajaran penting dalam hidupku. Saat liburan menjelang semester 5 pun aku berpikir untuk berpakaian syar'i dengan memakai rok dan khimar yang menutup dada, tak semudah yang dipikir karena banyak yang melihatku dengan tatapan aneh saat awal kucoba berpakaian seperti itu. Tapi, karena itu adalah jalan yang sudah aku pilih dan aku percaya kalo itu adalah yang terbaik yang bisa aku lakukan sebagai hamba Allah yang taat. Selain pendewasaan cara berpikir juga rohaniku semakin mendapatkan pencerahan. Mungkin inilah takdir yang memang membawa banyak pengaruh positif bagiku disini, bersyukur selalu rasanya mengenang semuanya.
Tahun 2014. Tibalah saatnya aku memasuki akhir perkuliahan, kadang banyak yang menyebut kami adalah Mahasiswa Tingkat Akhir yang sibuknya cuma ngurusin skripsi dan mengulang mata kuliah yang nilainya masih jelek. Sebelum aku mengalami sibuknya masa skripsi, aku KKN terlebih dahulu. KKN juga memberikan warna tersendiri dalam hidupku. Aku belajar gimana mengabdi secara jujur dan tanpa mengharap imbalan demi kemajuan Desa tempatku mengabdi, banyak hal yang bisa kuambil dari teman sekelompokku, studi kasus yang nyata di Desa KKN-ku dan keramahtamahan warga desa yang meluluhkan hatiku serta membuatku bahagia akan kesederhanaan hidup di Desa, aku betah tinggal di Desa! hahaha~ KKN juga sebagai ajang pengendalian diri dan emosi serta kerjasama tim, kenapa? karena kita hidup selama sebulan dengan teman yang awalnya belum kita kenal sama sekali dan otomatis nggak ngerti karakter maupun sifat mereka masing-masing terus tiba-tiba kita disuruh kerja bareng untuk menuntaskan proker di Desa. Awalnya (pasti) jenuh, tapi lama-kelamaan kalo kita bisa menguasai keadaan Insya Allah akan betah dan kompak pada akhirnya sedih karena berpisah kembali setelah KKN..Bagiku KKN itu salah satu kenangan terindahku, yang menjadi bagian dari kisah hidupku.
Tahun ini pun bagiku menjadi tahun peralihan lagi, dari mahasiswa menjadi orang dewasa seutuhnya yang berkewajiban memenuhi sendiri kebutuhan sandang pangan papan dengan bekerja dan menikah. Kedua hal ini memang tiba-tiba mulai aku pikirkan lagi. Kerja? Tempat kerja impianku sih ingin yang sesuai dengan passion-ku yaitu di bidang molekuler, karena kata buku yang pernah aku baca sih kalo kita bekerja sesuai passion maka rasanya kita udah nggak kerja lagi. maksudnya gimana tuh? iya, jadi karena kita menganggap kerjaan itu bukanlah suatu beban kerjaan tapi lebih sebagai kesukaan atau hobi yang membuat kita terus tertarik melakukannya tanpa rasa capek maupun bosen. Makanya aku mau nyari tempat magang penelitian skripsi yang sekiranya nanti bisa aku tempati saat aku kerja (amin!)
Nikah???
Nah ini dia sebenernya yang menurutku masih butuh bimbingan, aku masih mencari-cari pencerahan tentang apasih dan gimana sih nikah ini. Aku udah menargetkan menikah umur 25 tahun. Prinsipku sejak kuliah sih nggak mau pacaran tapi enaknya langsung nikah. Walaupun begitu, memang kata orang sih kita harus usaha kalo mau dapet jodoh. Nah yang jadi pertanyaanku adalah USAHA nya itu dalam hal yang seperti apasih? baru beberapa hari ini aku dapet sedikit petunjuk seperti apa usaha yang bisa kita lakuin buat dapet jodoh tanpa harus pedekate ataupun sampai pacaran. dalam surah An-Nur ayat 26 disebutkan bahwa lelaki yang baik adalah untuk wanita yang baik begitupula wanita baik-baik untuk lelaki baik-baik, sebaliknya lelaki yang keji diperuntukkan bagi wanita keji. Dari ayat ini akupun menyimpulkan usaha pertama yang harus kita lakukan yaitu memperbaiki kualitas diri. Kita mau dapetin suami yang sholeh, pintar, baik dan dapat membimbing keluarga ke jalan yang benar berarti kita pun harus memenuhi kriteria itu juga. Sama rata ibaratnya, kamu mendapatkan apa yang kamu usahakan selama ini. Selebihnya kita memasrahkan diri kepada Allah setelah usaha yang kita lakukan untuk mendapatkan jodoh. Jadi rencanaku sekarang adalah hanya berdoa meminta yang terbaik (walaupun aku sudah menyukai seseorang) sambil memperbaiki kualitas diri selama penantian ini agar nantinya saat waktunya sudah tiba maka aku telah siap dan aku mendapatkan suami yang terbaik yang menjadi teman seumur hidupku :) Amiiin~
Komentar