Hijrahku

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh!
Selamat Siang sahabat Lillah..

Siang ini, di bumi Allah, gue baru aja punya mood buat nge-blog lagi, ya ampun malunya karena ngeliat postingan terakhir itu tepat setahun yang lalu, dibulan yang sama, yaitu Desember. haha. harus di-manage lagi waktunya biar bisa lebih istiqamah buat nulis blog lagi. Afwan, kayak gini karena lagi melakukan kesibukan mahasiswa tingkat akhir :(

Pun siang ini mau mulai ngerevisi laporan moodnya malah ngajakin buat nulis blog dulu haha.

Inilah cerita gue selama setahun ini, tahun 2015 tepatnya.

Hijrah? keren ya kata-katanya, mungkin itu yang bisa menggambarkan kesibukan saya akhir-akhir ini, tapi hijrah juga merupakan kata sakti yang amat berat untuk dilakukan, mungkin beberapa dari kalian pun tahu itu dan pernah mengalaminya. Rasulullah pernah bilang kalo hijrah itu perlu ketika kita merasa tempat lama kita sudah tidak kondusif, membawa pengaruh buruk dan membuat hati kita tidak tenang. seperti Rasulullah yang hijrah dari Mekkah ke Yastrib karena kondisi kaum musyrikin disana yang susah diatur, sehingga lebih baik berpindah ke Yastrib atau yang lebih dikenal dengan Madinah.

Hijrah ini sebenarnya bukan soal pindah rumah atau pindah domisili sih, hijrah juga bisa bermakna pindah pandangan, pindah hati (eaak baper), dan pindah-pindah lainnya yang dimana harapannya seseorang yang melakukan hijrah tersebut mengalami perbaikan diri, menjadi lebih baik.

Ya saya sedang berusaha hijrah menjadi lebih baik, sedang mengejar hidayah-Nya tepatnya. sebenarnya sudah berlangsung cukup lama, sejak sebelum memasuki tahun 2015, tapi bagi saya namanya berhijrah itu pelan-pelan, berangsur-angsur, karena saya tidak bisa langsung instan berubah, saya bukan orang yang seberani itu, mungkin ini karena kondisi lingkungan, keluarga dan terutama sifat saya yang amat perasa sehingga masih belum tahan menghadapi akibat dari perubahan saya. Mungkin memang saya berniat seperti ini dan Allah pun tahu keinginan saya, Alhamdulillahnya pertolongannya selalu datang membantu saya, menguatkan saya, memberi asupan hidayah terus menerus, mengajari saya untuk menghadapi hidup yang sebenar-benarnya, jadi entah mengapa saya merasa semua yang telah terjadi terhadap saya ini ada hikmah yang selalu bisa saya ambil dan syukuri. sungguh teman, ini adalah nikmat yang tidak terkira. Hijrah sayapun punya rintangan tersendiri, mulai dari harus kuat mental dengan gaya busana baru saya yang syar'i sesuai tuntunan agama saya yang pada awalnya dipandang dengan tatapan aneh oleh beberapa teman dan keluarga saya, namun saya berusaha untuk bicara baik-baik, terlebih pada ibu saya, saya beri beliau pengertian tentang keharusan seorang wanita muslimah dalam islam, tentang busana dan juga perihal pacaran yang dilarang, Syukur Alhamdulillah ibu mengerti itu.

1. Background saya di pecinta alam, sebelum saya hijrah saya adalah anak yang lumayan tomboy tapi ngga juga sih (hehe), awal kuliah saya emang pengen banget ikutan pecinta alam, Alhamdulillahnya saya masuk pecinta alam jurusan yang notabenenya masih "sopan" dan tidak urakan. saya pun masuk keanggotaan dan menjadi pengurus ditahun berikutnya, semua teman saya tahu kalo saya anak pecinta alam makaa ketika saya mulai berhijrah dengan memakai rok semua gempar, semua bertanya dan kepo. seterusnya..sampai akhirnya saya bertekad melebarkan kerudung saya. Saya sangat berada dititik kegalauan, bila saya berada di organisasi saya pecinta alam saya merasakan pandangan aneh dari teman pecinta alam liain, ketika saya ingin menuntut ilmu pada teman akhwat saya, merasa dapat pandangan aneh pula. bukannya saya negatif thinking, tapi saya hanya orang yang amat perasa. tapi semua perasaan itu selalu saya tepis dan mencoba terus ber-positif thinking.  Sampai sekarang saya masih ikut pecinta alam dan mencoba sedikit berdakwah disana mulai dari hal kecil, misalnya ngajakin sholat tepat waktu. Allah memudahkan saya Alhamdulillah saya juga bisa ikut liqo lagi, bisa ngaji lagi, ruhani saya kembali terisi. tidak hentinya saya mengucap syukur.

2. Penelitian. Saya ditakdirkan penelitian di luar Semarang, tepatnya di BPPT, Puspiptek, Serpong, Tangerang. Hikmahnya saya bisa dekat dengan orang tua dan Alhamdulillah disana saya bertemu teman-teman solihat yang bisa mengingatkan saya dalam kebaikan, mengingatkan saya untuk selalu mengingat Allah. Pun saya merasa Allah memberi banyak pelajaran disini, selain tentang penelitian saya berbasis genetika molekuler yaitu seperti, saya dipertemukan sama mbak asisten lab yang baru saja menikah dengan cara ta'aruf, saya jadi tahu baik buruknya pernikahan, bagaimana progress taaruf dan bagaimana kehidupan pernikahan yang tidak seindah cerita cinderella. pelajaran lain yaitu ketika mba itu hamil, rasa sakitnya, rasa mualnya, rasa susah makannya yang seolah-olah Allah itu memberi materi-materi pra-nikah secara alami kepada saya.

3. Baca Alqur'an. ya Allah saya sebenarnya agak malu untuk cerita tentang ini, dulu saya sulit untuk istiqamah baca qur'an setiap harinya, sekali sehari aja rasanya susaaah banget. setelah saya melewati suatu siklus perkuliahan dimana hidayah itu datang kepada saya melalui seorang teman saat di siklus perkuliahan tersebut hingga saya jadi pecandu baca al-qalam tersebut.

Dan banyak lagi nikmat-nikmat yang dapat saya syukuri dalam perjalanan hijrah saya yang masih amat panjang, istilahnya adalah perjalanan mencari cinta-NYA yang entah butuh berapa lama, tak hanya dalam jangka waktu harian, mungkin berbulan-bulan, atau justru bertahun-tahun lamanya. maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakaaan?

Satu lagi catatan bagi saya dan para pencari tuhan lainnya, setelah beriman nanti akan ada istiqomah yang selalu dipertanyakan.... hmmm, semoga Allah memudahkan jalan kita semua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Introspeksi diri

Dramatis tapi... pengalaman memanglah segalanya!

Hello, January!