Lagi-lagi dramatis
Assalamualaikum gaes, tumben nih gue nge-blog pagi-pagi. Nyambi kerjaaa trus lagi dapet feelnya. Biasanya kalo kayak gini harus banget dikerjain kalo engga nanti apa yang mau ditulis bakalan buyar entah kemana. Eh, tapi teteup sih, finishing-nya malem-malem juga :P
Kali ini gue mau cerita tentang sisi lain kehidupan drama gue saat penelitian skripsi waktu dulu. Yaps, entah kenapa gue selalu dipertemukan dengan orang-orang yang unik dari segi sifat, trus dramatis dan sinetron abis gitu jadinya. Sebenernya bukan maksud pengen ngumbar kejelekan orang lain, cuma mengambil pelajaran aja dari beberapa sifat orang yang luar biasa. Toh, gak gue ekspos juga kan siapa orang sebenarnya. Salah satunya ya seorang partner skripsi yg namanya sebut aja haha*, si haha ini salah satu mahasiswa kampus terkemuka di Depok. Dia anaknya cerdas gue akui, cantik dan agak angkuh. Jadi macem cewek misterius gitu lah. Cuma yaa lumayan ramah kok. Gue sehari masuk tempat penlit langsung bisa akrab sama doi.
Jadi ceritanya kita dalam satu laboraturium yang sama of course dengan pembimbing lapangan yang sama cuma tema penlit kita agak sedikit berbeda. Kalo gue lebih ke rekayasa genetikanya, kalo doi lebih ke analisa hasil rekayasa genetikanya. Selama penlit ya gitu deh, doi nemenin hari-hari gue. Kita sama-sama suka nyanyi, interest kita juga sama dan selalu nyambung kalo ngobrolin sesuatu. Intinya gue ngerasa cocoklah temenan sama doi. Sampai suatu ketika dia hilang, yup beneran ilang coy. Gak ada yang tahu kabarnya, sampe ortunya pun. Gue saat itu kondisinya gak mikir apapun yang aneh-aneh karena gue lagi ribet ngurusin seminar proposal dan maka dari itu gue harus balik ke Semarang untuk beberapa waktu.
Nah setelah beres dengan urusan sempro, gue mulai lagi ngerjain penlit di puspiptek. Selang beberapa lama penlit berjalan baru deh bisa lihat sifat asli doi yang ambisius dan perfectionis kelas kakap, lalu entah kenapa dia tuh gampang hopeless gitu kalo gagal dikit. Biasanya kalo lagi gagal gitu suka ngilang tiba-tiba. Ngilangnya doi tuh nyeremin, karena waktu itu lagi banyak rumor anak kampusnya bunuh diri lah, ngilang lah...jadi ya kita yang di Lab waktu itu ikutan parno dan khawatir takut doi melakukan hal yang aneh-aneh. Akhirnya sampailah kita di akhir masa penelitian, dimana gue tinggal ngelakuin step terakhir atau tinggal finishing dan doi tinggal merapihkan data. Ini adalah fase terdramatis sebenernya, jadi saat itu posisinya doi habis menghilang entah kemana dan seperti biasa kembali ke Lab dengan muka seperti tidak terjadi apa-apa. Doi sih cuma tinggal melengkapi data-data dia yang tercecer. cuma herannya adalah dia jadi super sensitif sama gue. ngediemin gue tanpa sebab yang jelas yang karenanya gue jadi bingung gue udah berbuat salah apa ke doi. Kita jadi macem musuh, saling menghindar, kucing-kucingan entah apa istilah tepatnya. Trus intinya gue cari tahu permasalahannya sama seseorang yang kira-kira deket sama doi di tempat penlit gue.
.........dan sampailah pada saat terjadinya percakapan drama dan sinetron di chat kami,
"Dee, kenapa sih kamu selalu ngerebut sahabat aku?"
and then, gue speechless sama isi chat tersebut. dan gue gak berani buat bales apapun.
Selang beberapa menit kemudian, doi chat lagi.
"Ada waktu gak? Aku mau ngomong sama kamu empat mata"
trus gue bales,
"Iya, boleh. di tea room ya."
Moment nya dramatis, dia bener-bener negatif thinking sama gue. Alhamdulillah setelahnya kitapun saling menjelaskan kesalahpahaman tersebut. Yup, disini gue baru menyadari apa sebenarnya yang terjadi sama doi, menurut gue salah satu faktornya adalah akibat kesalahan cara mendidik orang tuanya. Jadi, doi tuh sedari kecil sering mendapat perlakuan yang kurang adil dan dapet perlakuan fisik yang cenderung kasar pula. entahlah....efeknya doi tuh merasa kurang dipedulikan, tapi di lain sisi doi gak suka kalau orang lain terlalu care. kan kompleks banget pemikirannya. Point lainnya adalah, doi ini memang anak yang cerdas sehingga gak pernah merasakan yang namanya kekalahan ataupun gagal. Justru orang yang seperti ini ternyata punya mental yang kurang kuat menghadapi permasalahan, jadi kurang sabar dan merasa dirinya-lah yang paling sengsara. Maka saat menghadapi skripsinya yang luar biasa banyak struggle, dia sampai stress akut, hypersensitive dan hyper-negative sama lingkungan sekitar. Dampaknya itu ya salah satunya ke gue, karena saat-saat skripsi ya doi sering interaksi sama gue. Sedihnya dia itu tipikal introvert yang sukanya memendam.
Pelajarannya pertama, mendidik anak itu sulit, terutama orang tua yang baru saja punya anak pertama. Anak sulung so pasti bakal jadi "bahan percobaan". Maka dari itu, menurut gue penting banget buat kita yang udah nikah ataupun belum, untuk mempelajari psikologis anak dan ilmu parenting. karena mendidik bukan berarti menggurui, mendidik bukan berarti seenaknya bersikap didepan anak, merasa selalu benar dan berhak melakukan tindakan apapun terhadap anak. Big No No! penanaman sikap dan tingkah laku saat masih kecil itu amat kuat dan melekat, bisa banget mencontoh dari kedua orangtua, influence dari teman-teman dan lingkungan sekitar serta dari produk gadget masa kini yang exactly meracuni. Jadi inget waktu dateng ke kajiannya Ust. Bendri yang bilang kalau mau mendidik karakter anak jangan lupakan mendidik anak tetangga pula. Karena jaman sekarang itu bukanlah seperti jaman rasulullah yang imej-nya "like father like son". Kita bisa lihat perangai seorang anak hanya dengan melihat seperti apa orang tua nya. Namun, terdapat campur tangan lingkungan sekitar yang mewarnai anak tersebut.
Yang kedua, menjadi orang yang pernah gagal itu bukan hal yang aib atau memalukan, karena dari situ kita bisa belajar untuk lebih sabar dan bekerja keras demi mencapai apa yang kita impikan. Kita bisa lebih tough dalam menghadapi masalah, sebesar apapun itu. Karena kita besar akibat masalah. maksudnya "besar" disini adalah kapasitas kita yaa, hehe. Karena Allah pun senang menguji hamba-Nya agar lebih dekat dengan Beliau. Jadi, merasa bersyukur dan bersabarlah bila kalian mendapat ujian, kesusahan ataupun masalah hidup yang rumit, itu artinya Allah masih care sama kalian, Allah kangen banget sama kalian gaes. Allah pengen kita ngadu sama Beliau, curhat sama Beliau dan nangis-nangis sama Beliau. Pokoknya jangan jauh-jauh dari Allah yaa, karena Allah itu segala-galanya.
Be positive and never end learning gaes!
Wassalam.
Kali ini gue mau cerita tentang sisi lain kehidupan drama gue saat penelitian skripsi waktu dulu. Yaps, entah kenapa gue selalu dipertemukan dengan orang-orang yang unik dari segi sifat, trus dramatis dan sinetron abis gitu jadinya. Sebenernya bukan maksud pengen ngumbar kejelekan orang lain, cuma mengambil pelajaran aja dari beberapa sifat orang yang luar biasa. Toh, gak gue ekspos juga kan siapa orang sebenarnya. Salah satunya ya seorang partner skripsi yg namanya sebut aja haha*, si haha ini salah satu mahasiswa kampus terkemuka di Depok. Dia anaknya cerdas gue akui, cantik dan agak angkuh. Jadi macem cewek misterius gitu lah. Cuma yaa lumayan ramah kok. Gue sehari masuk tempat penlit langsung bisa akrab sama doi.
Jadi ceritanya kita dalam satu laboraturium yang sama of course dengan pembimbing lapangan yang sama cuma tema penlit kita agak sedikit berbeda. Kalo gue lebih ke rekayasa genetikanya, kalo doi lebih ke analisa hasil rekayasa genetikanya. Selama penlit ya gitu deh, doi nemenin hari-hari gue. Kita sama-sama suka nyanyi, interest kita juga sama dan selalu nyambung kalo ngobrolin sesuatu. Intinya gue ngerasa cocoklah temenan sama doi. Sampai suatu ketika dia hilang, yup beneran ilang coy. Gak ada yang tahu kabarnya, sampe ortunya pun. Gue saat itu kondisinya gak mikir apapun yang aneh-aneh karena gue lagi ribet ngurusin seminar proposal dan maka dari itu gue harus balik ke Semarang untuk beberapa waktu.
Nah setelah beres dengan urusan sempro, gue mulai lagi ngerjain penlit di puspiptek. Selang beberapa lama penlit berjalan baru deh bisa lihat sifat asli doi yang ambisius dan perfectionis kelas kakap, lalu entah kenapa dia tuh gampang hopeless gitu kalo gagal dikit. Biasanya kalo lagi gagal gitu suka ngilang tiba-tiba. Ngilangnya doi tuh nyeremin, karena waktu itu lagi banyak rumor anak kampusnya bunuh diri lah, ngilang lah...jadi ya kita yang di Lab waktu itu ikutan parno dan khawatir takut doi melakukan hal yang aneh-aneh. Akhirnya sampailah kita di akhir masa penelitian, dimana gue tinggal ngelakuin step terakhir atau tinggal finishing dan doi tinggal merapihkan data. Ini adalah fase terdramatis sebenernya, jadi saat itu posisinya doi habis menghilang entah kemana dan seperti biasa kembali ke Lab dengan muka seperti tidak terjadi apa-apa. Doi sih cuma tinggal melengkapi data-data dia yang tercecer. cuma herannya adalah dia jadi super sensitif sama gue. ngediemin gue tanpa sebab yang jelas yang karenanya gue jadi bingung gue udah berbuat salah apa ke doi. Kita jadi macem musuh, saling menghindar, kucing-kucingan entah apa istilah tepatnya. Trus intinya gue cari tahu permasalahannya sama seseorang yang kira-kira deket sama doi di tempat penlit gue.
.........dan sampailah pada saat terjadinya percakapan drama dan sinetron di chat kami,
"Dee, kenapa sih kamu selalu ngerebut sahabat aku?"
and then, gue speechless sama isi chat tersebut. dan gue gak berani buat bales apapun.
Selang beberapa menit kemudian, doi chat lagi.
"Ada waktu gak? Aku mau ngomong sama kamu empat mata"
trus gue bales,
"Iya, boleh. di tea room ya."
Moment nya dramatis, dia bener-bener negatif thinking sama gue. Alhamdulillah setelahnya kitapun saling menjelaskan kesalahpahaman tersebut. Yup, disini gue baru menyadari apa sebenarnya yang terjadi sama doi, menurut gue salah satu faktornya adalah akibat kesalahan cara mendidik orang tuanya. Jadi, doi tuh sedari kecil sering mendapat perlakuan yang kurang adil dan dapet perlakuan fisik yang cenderung kasar pula. entahlah....efeknya doi tuh merasa kurang dipedulikan, tapi di lain sisi doi gak suka kalau orang lain terlalu care. kan kompleks banget pemikirannya. Point lainnya adalah, doi ini memang anak yang cerdas sehingga gak pernah merasakan yang namanya kekalahan ataupun gagal. Justru orang yang seperti ini ternyata punya mental yang kurang kuat menghadapi permasalahan, jadi kurang sabar dan merasa dirinya-lah yang paling sengsara. Maka saat menghadapi skripsinya yang luar biasa banyak struggle, dia sampai stress akut, hypersensitive dan hyper-negative sama lingkungan sekitar. Dampaknya itu ya salah satunya ke gue, karena saat-saat skripsi ya doi sering interaksi sama gue. Sedihnya dia itu tipikal introvert yang sukanya memendam.
Pelajarannya pertama, mendidik anak itu sulit, terutama orang tua yang baru saja punya anak pertama. Anak sulung so pasti bakal jadi "bahan percobaan". Maka dari itu, menurut gue penting banget buat kita yang udah nikah ataupun belum, untuk mempelajari psikologis anak dan ilmu parenting. karena mendidik bukan berarti menggurui, mendidik bukan berarti seenaknya bersikap didepan anak, merasa selalu benar dan berhak melakukan tindakan apapun terhadap anak. Big No No! penanaman sikap dan tingkah laku saat masih kecil itu amat kuat dan melekat, bisa banget mencontoh dari kedua orangtua, influence dari teman-teman dan lingkungan sekitar serta dari produk gadget masa kini yang exactly meracuni. Jadi inget waktu dateng ke kajiannya Ust. Bendri yang bilang kalau mau mendidik karakter anak jangan lupakan mendidik anak tetangga pula. Karena jaman sekarang itu bukanlah seperti jaman rasulullah yang imej-nya "like father like son". Kita bisa lihat perangai seorang anak hanya dengan melihat seperti apa orang tua nya. Namun, terdapat campur tangan lingkungan sekitar yang mewarnai anak tersebut.
Yang kedua, menjadi orang yang pernah gagal itu bukan hal yang aib atau memalukan, karena dari situ kita bisa belajar untuk lebih sabar dan bekerja keras demi mencapai apa yang kita impikan. Kita bisa lebih tough dalam menghadapi masalah, sebesar apapun itu. Karena kita besar akibat masalah. maksudnya "besar" disini adalah kapasitas kita yaa, hehe. Karena Allah pun senang menguji hamba-Nya agar lebih dekat dengan Beliau. Jadi, merasa bersyukur dan bersabarlah bila kalian mendapat ujian, kesusahan ataupun masalah hidup yang rumit, itu artinya Allah masih care sama kalian, Allah kangen banget sama kalian gaes. Allah pengen kita ngadu sama Beliau, curhat sama Beliau dan nangis-nangis sama Beliau. Pokoknya jangan jauh-jauh dari Allah yaa, karena Allah itu segala-galanya.
Be positive and never end learning gaes!
Wassalam.
Komentar